Assalamualaikum.
Malam Jumat kali ini
saya akan membahas mengenai tokoh emansipasi wanita di Indonesia. Ya, siapa
lagi kalau bukan RA Kartini.

Sebelum menikah dia dipingit terlebih dahulu, sehingga
ia menghabiskan waktunya bersama pembantunya karena ia adalah salah satu anak
dari bangsawan Jawa. Ia mulai menghabiskan waktunya dengan membaca-baca buku. Nah,
dari buku-buku itulah wawasannya mengenai persamaan derajat di Eropa terbuka
lebar. Kartini menginginkan hal itu juga terjadi di Indonesia. Laki-laki dan
perempuan disamakan derajatnya.
Ia pun mengirimkan surat kepada Mr.J.H Abendanon (kepala Dinas Pendidikan) untuk memberikannya
beasiswa ke Belanda. Permohonan Kartini pun diterima namun beasiswa itu belum
dimanfaatkan dengan baik karena ia telah dinikahkan oleh salah satu putra
Rembang. Untungnya, suami Kartini mendukung rencana Kartini untuk memperbaiki
status sosial wanita di Indonesia. Kartini pun diizinkan untuk mendirikan
sekolah di Rembang dekat kantor kabupaten Rembang. Namanya semakin dikenal
sebagai tokoh pejuang emansipasi wanita.
4 hari setelah Kartini melahirkan anak pertamanya, ia
meninggal di usia 25 tahun pada tahun 1904. Posisi
saat RA Kartini meninggal atau menghembuskan nafasnya terakhir yaitu berada di
pangkuan suaminya (ini menurut pengakuan para abdi dalem yang ada saat
peristiwa itu).
Beliau dimakamkan di Desa Bulu, 17 km dari kota Rembang.
Berkat usaha
Kartini, banyak didirikan sekolah bagi wanita yang dinamai “Sekolah Kartini”di
berbagai daerah lainnya di Indonesia. Selain itu, Mr.J.H Abendanon juga
mengumpulkan dan membukukan surat-surat yang pernah dikirimkan oleh RA Kartini
kepadanya. Buku itu diberi judul “DOOR DUISTERNIS TOT LICHT” yang
artinya “Habis Gelap Terbitlah Terang”.
Karena
jasa – jasanya, akhirnya melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108
Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964, Presiden Soekarno menetapkan RA Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus
menetapkan hari lahir Kartini, tanggal 21 April sebagai hari peringatan yang
kemudian dikenal sebagai Hari Kartini.
Salah satu composer hebat Indonesia, WR Supratman juga
membuatkan lagu untuknya dengan judul “Ibu Kita Kartini”. Ada juga majalah
KARTINI yang diterbitkan oleh Lukman Umar sejak tahun 1974 sebagai bentuk apresiasi
atas jasa mulia yang telah beliau lakukanJ
Menginspirasi bukan? Kita seharusnya sebagai kaum muda
yang cerdas bisa bertindak dan berpikir lebih baik lagi. Semangat kaum muda
Indonesia!