Malam ini akan berbeda dari malam-malam lain. Saya akan menuliskan review mengenai satu film yang cukup terkenal di Indonesia. Mungkin mayoritas orang sudah pernah menonton film ini, tapi tidak ada salahnya bukan me-review film ini kembali? Yaaa film ini adalah MODUS ANOMALI! Jreng jreng jreng
Judul Film : Modus Anomali
Sutradara : Joko Anwar
Produser : Sheila Timothy
Pemain : Rio Dewanto
Hannah
Al Rashid Marsha Timothy Surya
Saputra
Rumah
Produksi : Lifelike Pictures
Durasi Film : 86 menit
Tahun
Produksi : 2012
Biaya
Produksi : 4 Milyar
Rupiah
Seorang laki-laki ingin menyelamatkan keluarganya ketika
sedang berlibur di hutan. Ia menemukan istrinya meninggal terbunuh di dalam
sebuah kabin. Ia berusaha mencari anggota keluarganya meski ia juga dikejar
oleh pembunuh misterius di hutan. Laki-laki itu menemukan jam beberapa kali
dengan bunyi alarmnya ketika mencari anak-anaknya. Kejadian-kejadian aneh pun
terus terjadi.
Di bagian hutan yang lain, ada keluarga dengan dua orang
anak laki-laki yang juga sedang berlibur di suatu kabin. Suasana terasa sangat
hangat sampai hadir seseorang yang mengaku sebagai tetangga mereka yang justru
malah membunuh ayah di keluarga mereka. Ada satu sosok misterius yang sama di
dua keadaan ini. Ialah yang menjadi inti dari film ini.
Film ini adalah garapan sutradara terkenal Joko Anwar. Beliau
jugalah yang menjadi penulis skenario dari film ini. Film ini adalah film
keempatnya setelah sebelumnya menyelesaikan Janji
Joni (2005), Kala (2007), dan Pintu Terlarang (2009). Ia sudah belasan
tahun berkutat di dunia perfilman. Tak sedikit juga penghargaan yang berhasil
diraihnya, salah satunya yaitu filmnya mendapatkan penghargaan
tertinggi sebagai film terbaik di Puchon International Fantastic Film Festival 2009.
Jalan cerita dari film ini memang terlihat biasa saja,
namun amat sulit ditebak. Hal itulah yang memancing rasa penasaran saya sebagai
penonton. Penonton akan dibuat untuk berfikir lebih keras mengenai rangkaian
adegan yang dilakukan oleh Rio Dewanto. Ketika di tengah film, beberapa orang
akan berkata, “sepertinya saya telah salah memilih tontonan,” namun di akhir
cerita dijamin penonton akan berdecak kagum dengan seluruh rangkaian adegan di
film ini.
Selain itu, juru kamera bisa mengkondisikan dengan amat baik
bagaimana penonton agar juga ikut terlibat dalam film tersebut. Ketika pemeran
utama, John, sedang berlarian di tengah hutan, penonton juga dibawa seperti
sedang ikut berlari bersamanya. Begitu pula dengan lokasi yang dipilih. Meski
hanya hutan biasa, lebatnya pohon-pohon di hutan membuat suasana mencekam
semakin terasa.
Rio Dewanto bisa memerankan peran John Evans dengan amat
baik. Segala apa yang ia lakukan, apa yang ia pikirkan, bisa tertata dengan baik
di layar penonton. Kombinasi dari efek suara juga menambah imajinasi penonton
dengan apa yang sesungguhnya terjadi. Meskipun efek suara telah berhasil
menghipnotis para penonton, ada beberapa efek yang sedikit mengecewakan. Salah
satunya adalah ketika pemeran utama yang telah kelelahan memuntahkan isi
perutnya. Adegan muntah tersebut terlihat kurang natural.
Ada satu hal yang unik dalam film Indonesia yang satu
ini, yaitu seluruh percakapannya menggunakan bahasa Inggris. Ini adalah hal
yang jarang terjadi namun berdampak baik bagi perfilman Indonesia agar dapat
dikenal dengan lebih baik di kancah internasional. Selain itu, hal ini juga
bisa melatih para penonton Indonesia agar lebih mahir berbahasa asing dengan
menonton film-film Indonesia, bukan hanya dengan menonton film-film asing.
Film ini cocok untuk ditonton oleh remaja dan dewasa karena
beberapa adegan banyak memperlihatkan kekerasan dan penuh darah sehingga kurang
baik jika ditonton oleh anak-anak. Selain itu juga karena menonton film ini butuh
pemikiran yang cukup dewasa untuk sampai kepada maksud cerita.
Wuhuuu keren banget kan. Bangga Indonesia bisa memproduksi film sebaik ini. Fyi, ini memang copas tapi copas dari tugas Bahasa Indonesia yang saya buat sendiri. Hehe. Jadi bagi yang belum nonton, film ini ekstra recommended deh buat ditonton. Enjoy!